Oleh Anindya Yustisia )*
Indonesia sedang memasuki babak baru dalam pembangunan kesehatan nasional dengan menempatkan pencegahan dan deteksi dini sebagai fondasi utama pelayanan kesehatan. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, tetapi juga menjadi strategi penting untuk mengatasi berbagai penyakit menular yang selama ini masih menjadi tantangan, termasuk kusta. Di tengah target eliminasi kusta pada 2030, Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) hadir sebagai instrumen strategis yang memperkuat kemampuan negara menemukan kasus lebih cepat, memperluas akses layanan kesehatan, sekaligus memutus rantai penularan sebelum penyakit berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Kusta masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Penyakit ini sesungguhnya dapat disembuhkan melalui pengobatan yang tersedia, namun tantangan terbesar justru terletak pada masih banyaknya penderita yang belum teridentifikasi. Kondisi tersebut menyebabkan penularan terus berlangsung secara diam-diam di tengah masyarakat. Karena itu, upaya memperbanyak penemuan kasus menjadi sangat penting agar setiap penderita dapat segera memperoleh pengobatan yang tuntas.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa pemerintah menargetkan peningkatan penemuan kasus hingga sekitar 37 ribu orang. Langkah tersebut didasarkan pada estimasi jumlah penderita yang sebenarnya masih berada di masyarakat sehingga percepatan deteksi menjadi syarat utama untuk menghentikan penularan secara nasional. Keberhasilan eliminasi tidak lagi hanya diukur dari berkurangnya laporan kasus, melainkan dari kemampuan sistem kesehatan menemukan kasus yang selama ini tersembunyi. Semakin banyak penderita yang ditemukan dan diobati, semakin kecil peluang penyakit menyebar kepada orang lain.
Program Cek Kesehatan Gratis hadir menjadi pintu masuk bagi deteksi dini berbagai penyakit, termasuk kusta, sehingga masyarakat dapat memperoleh diagnosis sebelum muncul kecacatan maupun komplikasi yang lebih berat. Kehadiran CKG memungkinkan tenaga kesehatan melakukan skrining secara lebih sistematis kepada kelompok masyarakat yang selama ini memiliki akses terbatas terhadap pelayanan kesehatan. Pendekatan preventif tersebut selaras dengan upaya pemerintah membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh, efisien, dan berorientasi pada perlindungan masyarakat sejak dini.
Komitmen tersebut juga tercermin melalui keterlibatan pemerintah daerah yang mulai mengintegrasikan CKG dengan berbagai inovasi pelayanan kesehatan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, misalnya, memperkuat sinergi antara Program Dokter Spesialis Keliling (Speling) dan CKG untuk memperluas jangkauan skrining hingga ke berbagai pelosok wilayah. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa seluruh pemerintah kabupaten dan kota perlu diberikan target dalam melakukan deteksi dini kusta agar penanganan dapat dilakukan secara lebih terukur dan sistematis. Ia juga mendorong kolaborasi erat antara dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota dalam memastikan seluruh penderita memperoleh pengobatan hingga tuntas.
Eliminasi kusta juga merupakan perjuangan melawan stigma sosial yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Upaya edukasi kepada masyarakat memiliki posisi yang sama pentingnya dengan penyediaan layanan kesehatan. Penghapusan stigma akan mendorong lebih banyak orang memanfaatkan layanan kesehatan sejak muncul gejala awal sehingga peluang kesembuhan semakin tinggi.
Semangat kolaborasi tersebut juga terlihat di Papua Selatan. Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Papua Selatan mengajak masyarakat memanfaatkan Program CKG sebagai bagian dari upaya memperkuat deteksi dini berbagai penyakit menular. Kepala Dinkes PPKB Papua Selatan Benedicta Herlina Rahangiar menilai pemeriksaan kesehatan secara rutin memungkinkan penyakit ditemukan lebih awal sehingga pengobatan dapat segera diberikan dan penularan dapat dicegah. Menurutnya, CKG menjadi salah satu komitmen pemerintah dalam memperkuat layanan kesehatan dasar sekaligus mendukung pengendalian AIDS, tuberkulosis, malaria, kusta, serta peningkatan kesehatan ibu dan anak. Pendekatan yang menggabungkan berbagai program kesehatan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan kesehatan tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus saling terintegrasi agar menghasilkan dampak yang lebih luas.
Keberhasilan eliminasi kusta sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor. Pemerintah daerah, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, tokoh agama, dunia pendidikan, hingga masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi. Pertemuan lintas sektor yang terus didorong di Papua Selatan menjadi contoh bahwa pengendalian penyakit menular membutuhkan kesamaan komitmen seluruh pemangku kepentingan. Pelayanan kesehatan tetap harus berjalan optimal agar masyarakat tidak kehilangan akses terhadap pengobatan yang dibutuhkan.
Target eliminasi kusta pada 2030 memang bukan pekerjaan ringan, namun bukan pula sesuatu yang mustahil dicapai. Indonesia kini memiliki modal penting berupa Program CKG yang mampu memperluas deteksi dini hingga ke tingkat masyarakat. Ketika seluruh elemen bergerak bersama, angka penemuan kasus meningkat, pengobatan diberikan lebih cepat, dan stigma berhasil dikurangi, maka rantai penularan dapat diputus secara bertahap. Jalan baru yang ditempuh melalui CKG pada akhirnya bukan hanya menjadi strategi kesehatan, melainkan investasi besar bagi masa depan bangsa. Eliminasi kusta pada 2030 akan menjadi bukti bahwa Indonesia mampu membangun sistem kesehatan yang lebih inklusif, preventif, dan berkeadilan, sehingga setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk hidup sehat tanpa dibayangi penyakit maupun diskriminasi sosial.
)* penulis merupakan pengamat kesehatan publik
