Oleh: Mayessa Anggraini
Persaingan global saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan militer atau besarnya cadangan energi fosil, melainkan juga oleh kemampuan suatu negara menguasai rantai pasok mineral kritis yang menjadi fondasi industri teknologi modern. Logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements kini menjadi komoditas strategis karena berperan penting dalam pembuatan baterai kendaraan listrik, semikonduktor, perangkat kecerdasan artifisial (AI), energi terbarukan, hingga sistem pertahanan berteknologi tinggi. Dalam konteks tersebut, Indonesia memiliki peluang besar untuk bertransformasi dari sekadar pemasok bahan mentah menjadi negara industri berteknologi tinggi melalui kebijakan hilirisasi mineral kritis yang terintegrasi.
Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan sumber daya mineral terbesar di dunia. Potensi logam tanah jarang yang mencapai sekitar 350 ribu ton rare earth oxides merupakan modal strategis yang dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Namun, besarnya cadangan tersebut belum sepenuhnya menghasilkan nilai tambah optimal bagi perekonomian nasional karena sebagian besar manfaat ekonomi justru berada pada tahapan pemisahan, pemurnian, hingga manufaktur produk akhir yang memiliki nilai ekonomi jauh lebih tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa hilirisasi bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kebutuhan strategis untuk meningkatkan daya saing nasional.
Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman menegaskan bahwa logam tanah jarang harus dipahami sebagai bagian dari pembangunan rantai nilai industri nasional, bukan sekadar aktivitas pertambangan. Menurutnya, penguasaan rantai pasok logam tanah jarang menjadi faktor penting dalam menentukan daya saing global, ketahanan ekonomi, sekaligus memperkuat pertahanan nasional. Ia juga menekankan bahwa hilirisasi harus menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, memperkuat penguasaan teknologi, membuka lapangan kerja berkualitas, serta meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global melalui penguatan regulasi, pengembangan teknologi pengolahan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penerapan prinsip keberlanjutan, dan diplomasi ekonomi yang lebih kuat.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan industri mineral kritis tidak dapat dilakukan secara parsial. Indonesia memerlukan koordinasi lintas sektor agar seluruh kebijakan saling mendukung, mulai dari regulasi investasi, pengembangan teknologi, riset perguruan tinggi, hingga kemitraan industri. Dengan tata kelola yang baik, hilirisasi mampu menciptakan kepastian berusaha sekaligus menjaga agar sumber daya strategis nasional tidak mengalami kebocoran nilai akibat ekspor bahan mentah.
Urgensi hilirisasi juga semakin meningkat seiring pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial. AI membutuhkan infrastruktur komputasi yang bergantung pada semikonduktor, pusat data, serta perangkat elektronik yang seluruhnya menggunakan mineral kritis sebagai bahan baku utama. Oleh karena itu, penguasaan mineral strategis akan menentukan posisi suatu negara dalam peta persaingan teknologi global. Negara yang mampu mengendalikan rantai pasok mineral kritis akan memiliki daya tawar lebih besar dalam membangun industri digital masa depan.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyampaikan bahwa pembangunan kemandirian AI harus dilakukan secara menyeluruh melalui pengembangan model AI lokal, infrastruktur komputasi, talenta digital, serta pemanfaatan mineral kritis sebagai fondasi industri teknologi. Menurutnya, Indonesia memiliki keunggulan berupa sumber daya mineral strategis yang saat ini menjadi kebutuhan utama industri AI dan semikonduktor dunia. Karena itu, pengelolaan mineral kritis harus diarahkan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global sekaligus menjadi modal strategis dalam membangun kemandirian teknologi nasional.
Selain sektor teknologi, hilirisasi mineral kritis juga memiliki dimensi strategis bagi pertahanan negara. Berbagai peralatan pertahanan modern, seperti radar, sistem komunikasi militer, rudal presisi, kendaraan tempur listrik, hingga sensor berteknologi tinggi memerlukan logam tanah jarang sebagai komponen utama. Ketergantungan terhadap impor komponen strategis dapat menjadi kerentanan dalam menghadapi dinamika geopolitik global. Oleh sebab itu, kemampuan mengembangkan industri berbasis mineral kritis akan memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional sekaligus meningkatkan ketahanan negara terhadap berbagai potensi gangguan rantai pasok internasional.
Meski demikian, keberhasilan hilirisasi tetap menghadapi sejumlah tantangan. Keterbatasan teknologi ekstraksi dan pemurnian, belum optimalnya sistem pengawasan rantai pasok, kebutuhan investasi yang besar, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara bertahap. Tantangan tersebut memerlukan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan sektor industri agar proses alih teknologi dapat berlangsung lebih cepat dan menghasilkan inovasi yang berkelanjutan.
Ke depan, kebijakan hilirisasi mineral kritis harus diarahkan untuk membangun ekosistem industri nasional yang kompetitif, berkelanjutan, dan berbasis inovasi. Langkah tersebut akan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain penting dalam industri baterai, semikonduktor, kecerdasan artifisial, energi bersih, serta teknologi pertahanan. Dengan memanfaatkan kekayaan sumber daya alam secara cerdas melalui hilirisasi yang terintegrasi, Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi, menciptakan lapangan kerja berkualitas, memperkuat kedaulatan teknologi, dan menjadikan mineral kritis sebagai fondasi menuju negara maju yang mandiri, berdaya saing global, serta memiliki ketahanan ekonomi dan pertahanan yang semakin kokoh.
*Penulis adalah Pengamat Ekonomi
